Melawan Takdir: Sebuah Catatan dari Perjalanan Hidup Antara tahun 1993 hingga 1996, saya menjalani studi Magister Manajemen di Universitas Trisakti. Di sana saya memiliki sahabat sekaligus partner diskusi yang luar biasa: Yadi Supriyadi . Beliau adalah akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Trisakti, sekaligus praktisi yang mumpuni di bidang akuntansi dan perpajakan. Sementara saya sendiri masih terus berkarya sebagai dosen di Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta, saat itu. Dalam satu percakapan santai tapi serius, beliau sempat berkata penuh semangat: “Pak Robert, untuk sukses di Indonesia itu kita butuh dua K: Kompetensi dan Koneksi . Tanpa kompetensi, ya kita bukan siapa-siapa. Tapi kompetensi tanpa koneksi juga enggak akan kemana-mana.” Waktu itu saya tertawa kecil, lalu membalas, “Pak Yadi, saya rasa rumusnya masih kurang satu elemen penting: error alias faktor yang tak terduga. Bisa karena takdir, bisa karena keberuntungan, atau bahkan cobaan.” Dari disku...