Why I Changed My Name to Robert Kierson

Mengapa perubahan nama bisa terasa seperti “menemukan jati diri yang sesungguhnya,” berikut ini penjelasan dari sudut pandang psikologi, sosiologi, budaya, dan aspek identitas diri, didukung oleh referensi akademik yang relevan:

1. Aspek Psikologis: Identitas Diri dan Autentisitas

Perasaan bahwa nama lama “Robert Kristaung” terasa asing mencerminkan adanya konflik atau ketidaksesuaian antara self-concept (konsep diri) dengan label sosial (nama) yang digunakan.

  • Carl Rogers dalam teorinya tentang self-concept menyatakan bahwa kesejahteraan psikologis tercapai ketika ada kongruensi antara citra diri dan pengalaman nyata seseorang (Rogers, 1951).
  • Jika nama yang digunakan tidak mencerminkan identitas atau nilai-nilai pribadi seseorang, maka hal itu dapat menyebabkan perasaan keterasingan atau identity dissonance.

“The name someone bears can either affirm or deny their internal sense of self.”
Twenge, J. M., & Campbell, W. K. (2010). The Narcissism Epidemic: Living in the Age of Entitlement.

 2. Aspek Sosiologis: Pengakuan Sosial dan Representasi Identitas

Nama adalah bagian dari simbol sosial yang penting. Dalam masyarakat, nama berfungsi sebagai penanda identitas sosial, latar belakang budaya, bahkan afiliasi keluarga.

  • Perubahan nama sering terjadi dalam proses rekonstruksi identitas sosial, terutama untuk menciptakan koneksi dengan leluhur, seperti dalam kasus ini —“Kierson” sebagai penghormatan terhadap opa dari pihak Denmark.
  • Menurut Anthony Giddens, identitas modern adalah proyek yang terus dibangun. Salah satu bentuknya adalah memilih simbol (termasuk nama) yang mewakili siapa kita dan siapa yang kita ingin jadi (Giddens, 1991).

“Identity becomes a reflexive project, one which we continuously work and reflect on.”
Giddens, A. (1991). Modernity and Self-Identity.

 3. Aspek Budaya: Nama sebagai Cerminan Nilai dan Warisan

Dalam banyak kebudayaan, nama bukan hanya alat identifikasi, melainkan sarana mewariskan nilai, sejarah, dan makna spiritual.

  • Dalam budaya Minahasa, Batak, dan berbagai etnis Indonesia lainnya, nama kerap mengandung jejak asal-usul keluarga dan harapan leluhur.
  • Mengganti nama menjadi Robert Kierson juga berarti reklaim warisan budaya dari pihak opa (Kierson dari Denmark) yang pernah menjadi tokoh penting dalam kehidupan saya.

4. Aspek Eksistensial: Pemenuhan Makna dan Legacy

Keinginan mengganti nama bisa muncul dari dorongan eksistensial untuk mewujudkan makna hidup dan menghargai sosok penting dalam perjalanan hidup kita.

  • Viktor Frankl dalam Man’s Search for Meaning menjelaskan bahwa manusia terdorong untuk menemukan makna hidup melalui tindakan, hubungan, atau pengalaman yang signifikan (Frankl, 1946).
  • Dalam konteks ini, menggunakan nama Kierson dapat dipandang sebagai bentuk simbolik dari “pembayaran moral” terhadap figur yang berjasa dalam hidup Anda.

Penutup

Mengganti nama bukan sekadar tindakan administratif, tetapi juga proses transformasi identitas yang sangat personal. Perasaan asing terhadap nama lama mencerminkan kebutuhan untuk selaras dengan identitas batin. Ketika nama baru dipilih secara sadar dan penuh makna, hal itu dapat memperkuat perasaan otentik, terhubung, dan bermakna dalam hidup.

Referensi:

  1. Rogers, C. R. (1951). Client-Centered Therapy. Houghton Mifflin.
  2. Giddens, A. (1991). Modernity and Self-Identity. Polity Press.
  3. Frankl, V. E. (1946). Man’s Search for Meaning. Beacon Press.
  4. Twenge, J. M., & Campbell, W. K. (2010). The Narcissism Epidemic. Free Press.
  5. Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and Crisis. W. W. Norton & Company.

Pernyataan Pribadi: Mengapa Saya Mengganti Nama Menjadi Robert Kierson

Nama bukan sekadar rangkaian huruf di dokumen identitas. Ia adalah simbol identitas diri, jembatan spiritual, dan cerminan dari warisan nilai yang membentuk perjalanan hidup seseorang. Dalam dokumen resmi, saya selama ini dikenal sebagai Robert Kristaung—sebuah nama yang tercantum dalam ijazah, kartu identitas, dan seluruh catatan administratif saya. Namun seiring perjalanan hidup dan proses refleksi yang mendalam, saya menyadari bahwa nama tersebut tidak sepenuhnya mewakili siapa saya sebenarnya.

Setiap kali nama itu disebutkan, muncul perasaan asing, seolah-olah saya sedang mengenakan pakaian yang terlihat baik di luar, tetapi tidak terasa pas di dalam. Ini bukan penyangkalan terhadap masa lalu saya, melainkan proses rekonsiliasi batin. Saya ingin hidup selaras dengan siapa saya di dalam—dan dalam pencarian itu, saya kembali kepada nama Kierson, sebagaimana tercantum dalam Surat Permandian saya di Gereja Masehi Injili Sangihe & Talaud.

Nama Kierson bukan hanya berasal dari sisi rohani, tetapi juga sarat makna historis dan emosional. Ia adalah nama dari opa saya, Hendrik Kierson, seorang keturunan Denmark yang memiliki peran besar dalam kehidupan saya. Ketika beliau datang ke Indonesia, ibu kandung saya, Theresia Humena, telah berada dalam pengasuhan ayah tiri dan tidak dapat kembali kepadanya. Meskipun demikian, Opa Kierson tetap menunjukkan cinta, dedikasi, dan nilai-nilai luhur yang membentuk cara pandang hidup saya hingga hari ini.

Bagi saya, mengganti nama menjadi Robert Kierson adalah bentuk penghormatan terhadap warisan kasih dan keteladanan yang beliau tinggalkan. Ini adalah pernyataan identitas yang lebih otentik—tentang spiritualitas, keluarga, dan keberanian untuk hidup sesuai nilai yang diyakini.

Secara psikologis, Carl Rogers memperkenalkan konsep self-congruence, yaitu kondisi ketika identitas batin selaras dengan citra diri yang tampak ke luar. Ketidaksesuaian dapat menimbulkan ketegangan psikologis dan rasa keterasingan. Dari sisi sosiologi, Anthony Giddens menyatakan bahwa identitas bukanlah entitas statis, melainkan proyek reflektif yang terus dibentuk seiring waktu. Nama adalah bagian dari proses tersebut—dan saya memilih untuk menjalani hidup dengan nama yang lebih selaras dengan siapa saya sebenarnya.

Mengubah nama bukan berarti memutus masa lalu, melainkan mengintegrasikannya dengan masa kini untuk membentuk masa depan yang lebih bermakna. Kini, dengan nama Robert Kierson, saya merasa lebih utuh, lebih terhubung dengan akar spiritual dan emosional saya, dan lebih siap untuk menjalani hidup dengan kejujuran dan makna yang lebih dalam.

Personal Statement: Why I Changed My Name to Robert Kierson

A name is not just a series of letters on an identity document. It is a symbol of who we are, a bridge to our spiritual roots, and a reflection of the values that shape our life’s journey. For many years, I was known administratively as Robert Kristaung—a name that appeared on my academic degrees, identification card, and official records. But through time and deep personal reflection, I began to feel that the name did not truly represent who I am.

Each time I heard the name, it felt unfamiliar—like wearing clothes that looked fine on the outside but didn’t quite fit within. This is not a rejection of my past, but rather a reconciliation with my inner self. In that journey, I returned to the name Kierson, as recorded in my Baptism Certificate from the Evangelical Christian Church of Sangihe & Talaud.

The name Kierson holds more than spiritual significance—it embodies historical and emotional meaning. It was the name of my grandfather, Hendrik Kierson, a Danish man who had a profound influence on my life. When he came to Indonesia, my biological mother, Theresia Humena, was already in the care of a stepfather and could not return to him. Despite this, Opa Kierson showed unwavering love, dedication, and moral strength that helped shape my worldview to this day.

For me, adopting the name Robert Kierson is an act of honoring that legacy of love and integrity. It is a declaration of a more authentic identity—rooted in spirituality, family, and the courage to live by one’s true values.

Psychologically, Carl Rogers proposed the concept of self-congruence—a state where one's inner identity aligns with their outward expression. A mismatch can lead to psychological dissonance and a sense of estrangement. Sociologically, Anthony Giddens explains that identity is not fixed but rather a reflexive project that we continuously shape throughout our lives. A name is a vital part of that process—and I have chosen to live with a name that more truthfully reflects who I am.

Changing my name does not erase my past. It integrates it into a fuller version of myself. Now, as Robert Kierson, I feel more whole, more connected to my spiritual and emotional heritage, and more ready to live a life guided by meaning, authenticity, and love.

Narasi personal berjudul “Mengapa Saya Mengganti Nama Menjadi Robert Kierson”, baik dalam versi Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris, telah saya susun berdasarkan pengalaman pribadi dan refleksi mendalam mengenai proses perubahan identitas nama. Dalam penyusunan narasi tersebut, saya menerima dukungan dan bantuan redaksional dari ChatGPT, sebuah platform kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan oleh OpenAI, khususnya dalam hal struktur narasi, pemilihan diksi yang tepat, serta penguatan referensi psikologis, sosiologis, dan budaya.

Bantuan tersebut bersifat pendampingan penulisan dan tidak mengubah substansi pengalaman pribadi yang saya alami. Narasi tetap sepenuhnya mencerminkan keyakinan, nilai, dan perjalanan hidup saya.


Slipi, Jakarta, 13 April 2025


Candi Borobudur, 23 Desember 2024.


Postingan populer dari blog ini