Melawan Takdir: Sebuah Catatan dari Perjalanan Hidup

Antara tahun 1993 hingga 1996, saya menjalani studi Magister Manajemen di Universitas Trisakti. Di sana saya memiliki sahabat sekaligus partner diskusi yang luar biasa: Yadi Supriyadi. Beliau adalah akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Trisakti, sekaligus praktisi yang mumpuni di bidang akuntansi dan perpajakan. Sementara saya sendiri masih terus berkarya sebagai dosen di Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta, saat itu.

Dalam satu percakapan santai tapi serius, beliau sempat berkata penuh semangat:

“Pak Robert, untuk sukses di Indonesia itu kita butuh dua K: Kompetensi dan Koneksi. Tanpa kompetensi, ya kita bukan siapa-siapa. Tapi kompetensi tanpa koneksi juga enggak akan kemana-mana.”

Waktu itu saya tertawa kecil, lalu membalas, “Pak Yadi, saya rasa rumusnya masih kurang satu elemen penting: error alias faktor yang tak terduga. Bisa karena takdir, bisa karena keberuntungan, atau bahkan cobaan.”

Dari diskusi itu lahirlah formula yang sering saya bagikan ke mahasiswa di berbagai level pendidikan, bahkan saat menjadi narasumber pelatihan:

S = K + K + e
(Sukses = Kompetensi + Koneksi + error)

Saya menyebut ini sebagai model reduced form, di mana unsur konstanta dan faktor seperti bencana, perang, atau pandemi tidak dimasukkan agar tetap mudah dipahami.


Melawan Takdir? Atau Justru Menyambutnya?

Saya mulai mendapat pertanyaan dari banyak orang, apalagi menjelang usia 68 tahun di Oktober ini:

“Pak Robert kok masih aktif sih? Masih jadi pembicara, menulis, bahkan tetap mengajar. Nggak capek?”

Jujur, saya sering bingung menjawabnya. Tapi ada satu hal yang saya yakini: saya tidak sedang melawan takdir—saya justru sedang menghormatinya. Saya percaya, selama napas masih ada, maka tanggung jawab untuk berbagi ilmu dan pengalaman tetap menjadi bagian dari panggilan hidup.


Sudut Pandang Ilmiah: Kenapa Kita Berusaha “Melawan Takdir”?

Menurut Viktor E. Frankl dalam bukunya Man’s Search for Meaning, manusia pada dasarnya selalu mencari makna dalam hidup, bahkan di tengah penderitaan atau keterbatasan. Inilah yang mendorong kita untuk terus melangkah, bahkan saat realitas tidak sesuai harapan.

Sementara itu, psikolog Albert Bandura melalui konsep self-efficacy menjelaskan bahwa keyakinan individu terhadap kemampuannya untuk mengelola tantangan akan mendorongnya bertindak aktif, bahkan dalam situasi yang tampaknya tak terhindarkan. Ini bukan semata menolak takdir, tapi menunjukkan adanya personal agency—bahwa manusia ingin tetap punya kontrol, setidaknya atas pilihannya.

Dari sisi neurosains, Lisa Feldman Barrett menjelaskan bahwa otak kita bukan hanya bereaksi pada dunia luar, tetapi aktif memprediksi dan membentuk respons kita terhadap masa depan. Jadi saat seseorang ‘melawan takdir’, sejatinya mereka sedang menjalankan fungsi alami otaknya untuk bertahan dan berkembang.


Menjadi Berguna Sampai Akhir Hayat

Saya percaya, setiap orang ingin tetap berguna—berapa pun usianya. Melawan takdir bukan tentang menyangkal kenyataan seperti usia atau penyakit. Tidak menyerah pada keterbatasan. Karena dalam keterbatasan pun, kita masih bisa memilih: untuk berkontribusi, untuk tetap bermanfaat.

Saya menuliskan refleksi ini bukan sebagai nasehat, tapi lebih sebagai pengingat untuk diri sendiri:

“Selama kita hidup, tak ada yang lebih indah daripada menjadi terang—sekecil apa pun sinarnya.”

Terima kasih sudah membaca, dan jika ingin mengenal saya lebih jauh, silakan mampir ke blog pribadi saya:

👉 https://robertkierson.blogspot.com


📚 Referensi Akademik:

  • Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. New York: Freeman.
  • Frankl, V. E. (2006). Man's Search for Meaning. Beacon Press.
  • Barrett, L. F. (2017). How Emotions Are Made: The Secret Life of the Brain. Houghton Mifflin Harcourt.

  • Pantai Baron, Gunung Kidul Yogyakarta, 23 November 2024
    Catatan Penulis:
    Tulisan ini dikembangkan dengan bantuan AI ChatGPT, namun seluruh isi, pengalaman, dan pandangan adalah milik penulis secara pribadi.

    .

Postingan populer dari blog ini