Back Office dan Front Office: Perlu rekonstruksi Praksis Manajemen Pemasaran Jasa?

 

Dalam manajemen pemasaran jasa sudah menjadi kiat baku, dari berbagai literature maupun riset yang menjadi perhatian adalah sisi front office. Artinya apa yang dipersepsikan dan diterima oleh pelanggan menjadi titik sentral perhatian akademisi dan praktisi pemasaran jasa. Memang tetap ada porsi dari sisi back office atau manajemen operasional (kalau mau memakai terminology akademis), tetapi sentranya tetap focus kepada interaksi antara penyedia jasa (service provider) dengan pelanggan.

Adanya pandemi Covid19 memang mengubah segalanya, tidak hanya dalam keseharian baik secara personal maupun interpersonal. Bahkan kata pandemi Covid19 ini mengingatkan era 1990 sampai dengan 2000-an di mana tidak ada kata-kata yang popular seperti globalisasi. Setiap pejabat samapai akademisi selalu mengaungkan kata-kata seperti ini, “dalam era globalisasi saat ini..”. Pola serupa seolah berulang saat ini, hampir dapat dipastikan akan muncul ucapan atau tulisan yang akan menyitir, “dalam situasi pandemi Covid saat ini, kita harus ….”

Saat ini bila para akademisi tidak melakukan penataan ulang terhadap materi perkuliahan yang disajikan dapat dipastikan akan tergerus secara alamiah, termasuk dalam pemasaran jasa, sudah seharusnya dilakukan keseimbangan antara materi operasional yang selama ini agak “dianaktirikan” dibandingkan dengan sisi sumber daya manusia dan pemasaran.

Pertanyaan yang muncul mulai dari mana perubahan ini harus dilakukan? Elsevier salah satu publisher terkemuka telah mengeluarkan publikasi khusus mengenai hal ini dalam Journal of Business Research, September 2020. Kajian yang dilakukan mulai dari sisi perilaku konsumen, ritel, pendidikan tinggi pengelolaan sumber daya manusia, bisnis, etika bisnis, sampai dengan relasi pegawai dan kepemimpinan (Donthu & Gustafsson, 2020). Marilah kita memusatkan pada isyu pemasaran (jasa) seperti apa impak dan solusi yang ditawarkan.

Berdasarkan kajian singkat atas pengamatan akademisi pemasaran (jasa), umumnya belum ada bentuk solusi yang terlalu konkrit, lebih banyak memusatkan perhatian pada dampak, tren dan rekomendasi apa yang harus dilakukan oleh akademisi dan pelaku bisnis (misalnya dari: Mele et al., 2020; Wang et al., 2020; dan  Pantano et al., 2020). Namun demikian, ungkapan He & Harris (2020) yang menyatakan dengan adanya pandemic Covid ini bahwa, “fundamental changes to our lives will affect our beliefs, attitudes, and opinions so that astute marketers will adapt their policies and strategies to reflect,” bisa menjadi pegangan sementara kita.

Bekasi, 16 Maret 2021

Salam Takzim

 

Referensi

Donthu, N., & Gustafsson, A. (2020). Effects of COVID-19 on business and research. Journal of Business Research, 117(June), 284–289. https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2020.06.008

He, H., & Harris, L. (2020). The impact of Covid-19 pandemic on corporate social responsibility and marketing philosophy. Journal of Business Research, 116, 176–182. https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2020.05.030

Mele, C., Russo-Spena, T., & Kaartemo, V. (2020). The impact of coronavirus on business: developing service research agenda for a post-coronavirus world. Journal of Service Theory and Practice, ahead-of-print(ahead-of-print). https://doi.org/10.1108/jstp-07-2020-0180

Pantano, E., Pizzi, G., Scarpi, D., & Dennis, C. (2020). Competing during a pandemic? Retailers’ ups and downs during the COVID-19 outbreak. Journal of Business Research, 116(May), 209–213. https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2020.05.036

Wang, Y., Hong, A., Li, X., & Gao, J. (2020). Marketing innovations during a global crisis: A study of China firms’ response to COVID-19. Journal of Business Research, 116, 214–220. https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2020.05.029

Tokyo, Februari 2019
                                                 

 

 

 

 

 

Komentar

Felicia mengatakan…
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Unknown mengatakan…
Ya kita sebagai mahasiswa kurang/tidak setuju dengan adanya kuliah online seperti ini. karena banyak sebagian dari kita yang masih belum mengerti untuk mengaplikasikan kuliah melalui online(zoom,gmeet,dll). apalagi kita sudah di tahap tingkat akhir kuliah yang tentunya harus fokus pada dunia pekerjaan. tapi jika kita terhalang oleh jarak ya apa boleh buat. dunia pendidikan harus berputar lebih cepat supaya penataan materi-materi tidak terlewatkan.

Terimakasih pak.
Andreas Theodorus mengatakan…
Setelah membaca postingan blog diatas menurut analisis saya tidak perlu untuk merekonstruksi semua hal dalam manajemen pemasaran di masa pandemi, karena dari pengalaman saya pribadi mulai dari melaksanakan kuliah daring hingga bertemu dengan client bisnis tidak semuanya suka dengan adanya virtual meeting. Masih banyak dari kita individu pribadi yang membutuh physical touch yang hanya bisa dirasakan bila bertemu secara langsung.
Diana Dara mengatakan…
Sebelum adanya pandemi covid-19 ini kan semua hal-hal dilakukan secara offline ya, tegur sapa hingga berjam-jam masih boleh, bukber dan ngerumpi masih boleh di restoran, yang artinya tatap muka langsung ya... tiba-tiba covid-19 datang merajalela, semua hal terpaksa online padahal kita semua belum siap, memang sih bencana/wabah siapa yang mau? dan gaada yang bisa prediksi sebelumnya, dan berdampak juga akhirnya ke sistem belajar mengajar yg masih termasuk dalam jasa di bidang edukasi. Sistem belajar online belum siap, dan terus berlangsung hingga saat ini selama kurang lebih 3 semester, walaupun sudah ada perbaikan berkali-kali. Dari saya masih semester 4 hingga saya semester 6 hahaha. Di lain sisi, kita sebagai pelajar tetap membutuhkan pemamaparan materi secara offline, karena kebanyakan dari "kita-kita" lebih menyerap apa yg disampaikan dosen/guru kalau secara offline ya... perubahan memang perlu dan harus adaptasi dengan itu, tapi kalau perubahan tentang proses mengajar, saya rasa lebih baik tidak usah karena lebih efektif dengan sistem yang dulu hehehe...
Adinda Salsabila mengatakan…
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Aqilla Nissa mengatakan…
Saya tidak setuju dengan adanya perubahan, covid 19 memang punya dampak langsung pada proses pembelajaran tapi bukannya perubahan, adaptasi adalah hal yang benar untuk dilakukan.

Didalam pemasaran jasa point pentingnya itu memahami persepsi pelanggan terhadap jasa yang berikan, nah kalo dibidang akademik mahasiswa merupakanbpelanggan dan, dosen sebagai pengajar atau pemberi jasa.
Point yang diperhatikan adalah apakah yang dirasakan oleh mahasiswa. Jika perubahan terjadi dikarena covid 19 dibidang mengajar, lebih banyak hal yang tidak menguntungkan, seperti pengajaran online yang banyak sekali kendalanya mulai dari masalah jaringan, kuota, bahan ajar melalui elektronik, kelas tidak langsung melalui zoom. Banyak hal langsung yang tidak bisa digantikan dengan daring dan segala perubahan lainnya... setiap perubahan pasti menuntut mahasiswa untuk selalu megikuti perubahan tersebut.

Jadi menurut saya better menggunakan konstruksi yang sudah ada sebelumnya, tetapi lebih disesuaikan atau diadaptasikan sesuai dengan kondisi dan keadaan, daripada harus melakukan perubahan.
Nia Sania mengatakan…
Dari artikel blog diatas saya ingin mengemukakan pendapat pribadi saya sebagai perwakilan anak muda yang terkena dampak perubahan yang disebabkan oleh Pandemi Covid – 19, dikarenakan dari pengalaman pribadi yang saya alami sebagai mahasiswa. Pembelajaran jarak jauh (daring) melalui media online seperti Zoom, Google Meet, Google Classroom dsb tidak efektif dilakukan, karena tidak ada nya pengawasan oleh pihak pengajar. Ada beberapa kalangan mahasiswa yang lebih paham dan mengerti dengan pembelajaran secara offline (tatap muka) karena dapat bersosialisasi langsung dengan pihak pengajar dan teman. Dan juga pembelajaran jarak jauh mengakibatkan pengeluaran – pengeluaran yang sebelumnya tidak ada. Seperti pembelian paket internet/pemasangan wifi, pembelian Handphone/Laptop untuk menunjang pembelajaran. Sedangkan tidak semua kalangan mempunyai cukup biaya untuk membeli barang – barang tersebut.
Adinda Salsabila mengatakan…
seiring perkembangan zaman (yang didukung adanya pandemi Covid-19), teknik pemasaran jasa juga turut berkembang. sebelumnya, adanya kontak fisik pada front office diutamakan. akan tetapi, karena saat covid harus dibatasi, teknis pemasaran jasa lebih baik dilakukan rekonstruksi supaya pereknomian dapat terus berputar. bukan hanya mementingkan kepentingan satu perusahaan, tapi seluruh industri jasa juga makin terpuruk jika tidak dilakukan penataan ulang. globalisasi yang juga membuat perkembangan teknologi semakin melesat dan dapat memudahkan perusahaan untuk meng-update kan teknologinya sehingga konsumen juga bisa berhadapan dengan perusahaan secara online dan perusahaan juga tetap bisa meng-attach konsumen secara online.
Nathasya Emmi mengatakan…
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Felicia mengatakan…
menurut pendapat saya setelah membaca blog diatas, pemasaran jasa perlu melakukan tata ulang. hal ini bertujuan agar suatu perusahaan dapat tetap berjalan dengan baik meskipun beriringan dengan adanya pandemi covid 19. Karena pandemi covid, maka dapat menimbulkan berbagai macam hal yang harus diubah oelh suatu perusahaan mulai dari sistem pemasarannya, seperti restoran yang tadinya hanya menjual makanan secara langsung tetapi sekarang berkembang sehingga bisa melakukan pembelian secara online.
Fiqri Mara Amanda mengatakan…
Sebagai mahasiswa, saya kurang setuju dengan hal yang namanya online class. Dikarenakan masih banyak orang yang belum mengerti cara pengaplikasian secara online (online class, online meeting). Selama adanya online class ini, saya kurang mengerti materi yang disampaikan oleh dosen.
Kevin Aditya mengatakan…
Selamat sore
salam sejahtera untuk kita semua

Sekarang ini kita hidup di era pandemi, yang dimana mengharuskan kita untuk tidak bertemu langsung atau berkerumun. Sehingga sektor-sektor, bisa diambil contoh sektor perekenomian. Sektor perekonomian mengalami penurunan yang sangat tajam. Adanya pandemi ini memang mengubah segalanya, seperti mengubah perilaku kita, pemikiran, atau bahkan merubah sifat kita. Segala cara sudah dilakukan untuk menaikkan perekonomian, dan hal yang paling utama adalah memasarkan semua produk/jasa.

Pemasaran ini sudah menjadi pondasi yang sangat penting untuk keberlangsungan suatu usaha. Di era pandemi ini mengharuskan kita untuk merubah pola pikir kita agar usaha yang dijalanin bisa mencapai tujuan. Dan ya, dengan rekonstruksi ulang untuk pemasaran ini bisa menjadi langkah awal dan titik terang baik pihak back office ataupun front office. Dengan seperti itu suatu usaha bisa berjalan sedikit demi sedikit untuk mecapai tujuannya di era pandemi ini.

Semoga bermanfaat :)
Fitri Paras mengatakan…
Dalam era pandemi seperti ini perlu adanya solusi dan penataan ulang yang sangat diperlukan untuk perbaikan di segala bidang agar dapat beradaptasi demi kelangsungan pada bidang" yang terkena dampak dari pandemi saat ini  serta perkembang teknologi yang sudah menjadi kebutuhan disegala bidang. Dalam hal ini contohnya saat ini hotel telah melakukan pemasaran yang berbeda dengan menonjolkan satu bidang dalam F & B, sehingga para cutomer dapat membeli dan delivery  makanan yang ditersedia di hotel.
Selain itu ada dari sisi pendidikan juga mulai memperbaiki sistem online, dalam melaksanakan daring kali ini perlu adanya adaptasi dalam proses pembelajaran. Dengan itu bidang- bidang  yang terkena dampak pandemi dapat melakukan  suatu solusi mulai dari pengembangan produk, mengubah sistem yang disesuaikan dengan keadaan saat ini dan lainnya.  Selain itu perlu melakukan keseimbangan yang terdapat dalam manajemenn, baik dari sisi HRD, Operation dan Marketing dalam melaksanakan pemasaran jasa.
Roro Ajeng F mengatakan…
Perubahan situasi kini memang membatasi innteraksi langsung menyulitkan banyak pemasar jasa untuk beroperasi dan menjajakan jasanya. Saya pun menemukan informasi yanng dilansir oleh kompas.com pada 07/10/2020, 8 dari 10 industri jasa mengalami penurunan pendapatan. Tidak hanya itu, bahkan kebangkrutan juga terjadi, sebagai contoh diketahui ada ribuan hotel dan restoran tutup permanen akibat pandemi, 5/2/2021 (ekonomi.bisnis.com). Dalam opini saya, penurunan pendapatan dan kepailitan terjadi karena terjadi perubahan yang signifikan, sehingga bisa kita katakan bahwa strategi pemasaran jasa yang telah digunakan nyatanya tidak dapat menyelamatkan perusahaan. Strategi terdahulu yang dilangsungkan tidak lentur untuk menghadapi perubahan kebiasaan konsumen.

Maka dari itu, rekonstruksi akademis agaknya diperlukan untuk menciptakan pembaharuan strategi yang bisa diterapkan pada situasi yang juga terbaharui. Strategi yang dimaksudkan tentu mencakup front and back office yang beberperan dalam upaya pemasaran. Teknologi kini menjadi salah satu aset untuk mempertahankan hidup perusahaan. Para akademisi beserta manajerial dalam hal ini back office memiliki beban baru untuk mengkaji ulang atau memberikan temuan baru yang cocok untuk menyelamatkan usaha dan perekonomian negara. Seiring dengan itu, lini front office juga bisa menyegarkan kembali atau beradaptasi dengan mengembangkan media-medianya agar tetap terhubung dengan konsumennya.
Nathasya Emmi mengatakan…
Semoga saja tidak ada penataan ulang terhadap materi perkuliahan. Honeslty, saya sbg mahasiswa sangat stress dengan pembelajaran daring yg monoton + tuntutan tugas kuliah yg banyak, apalagi jika terjadi penataan ulang materi perkuliahan, makin amsyonggg /.\
Marneta Eka Putri mengatakan…
Dari hasil diskusi kami saya mengambil kesimpulan bahwa pada saat pandemic covid 19 ini back office dan front office manajemen pemasaran jasa berlu di rekonstruksi ulang karena jika tidak maka sector pemasaran jasa akan mengalami penurunan. Contoh: dalam sector perhotelan dan pariwisata, sekarang banyak sector pariwisata dan perhotelan sudah banyak yang invalid karena adanya pandemic ini. Jadi perlu menyusun strategi agar perusahaannya bisa bangkit kembali. misalnya hotel Alana di Surabaya membuka layanan food delivery dari restoran yang ada di hotelnya. Selain food delivery, mereka juga menawarkan jasa laundry service sampai cleaning service home-to-home. strategi tersebut akan tetap menjalankan aktivitas perusahaan biarpun tidak se aktiv dulu tetapi masih bisa pencari pemasukan hotel. dan strategi tersebut juga menjadi lebih efektif di tengah pandemic ini, terlebih lagi strategi home service karena dalam masa pandemi kebersihan sangat di perlukan.
Unknown mengatakan…
pada saat ini kita hidup di era pendemi covid-19, yang diharuskan menggunakan masker serta tidak bertermu secara langsung apa lagi dalam kerumunan masa yang banyak, dengan adanya pandemi ini, maka perushaan jasa harus memiliki sistem yang sejalan dengan pandemi ini, seperti aplikasi online yaitu zoom, untuk pertemuan bisnis hal ini sangat menguntungkan karna tidak banyak memakan waktu untuk bertemu secara langsung.
Andhika Mulya mengatakan…
Kalau menurut saya sih tidak ada yang harus diubah soalnya pembelajaran dengan menggunakan daring seperti ini sangat tidak ideal bagi semua orang karena tidak adanya tatap muka langsung dan hanya lewat zoom, google classroom dll. Situasi seperti ini juga efektif karena materi yang disampaikan pun banyak yang tidak masuk sehinnga menyebabkan ketidak tahuan materi yang diajarkan yang bisa menyebabkan ya mungkin nilai jelek dsb.
Unknown mengatakan…
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Millenia syafitri mengatakan…
Menurut saya perlu banget dilakukannya rekonstrusksi manajemen pemasaran,apa lagi setiap kegiatan yang kita lakukan akan berkaitan dengan zamannya, ya contohnya zaman skrng ini,mana ada orang terpikirkan adanya covid didunia yang ternyata menganggu kegiatan di seluruh dunia, maka perlu kita harus menyesuaikan kegiatan kita baik bisnis dan beljar dengan zamannya,apa bila tidak kita akan tertinggal. Contohya menggunakan virtual meeting dapat memudahkan dalam berkomunikasi secara efektif dan efisien, dapat dilakukan dimana saja,kapan saja tetapi pesan dapat tersampaikan.apa lagi zaman sekarang konsumen inginnya yg mudah mudah dengan adanya inovasi inovasi yang ada ,dapat membantu dalam melakukan kegitan,lalu dalam perusahann dapat menjadi lebih unggul dibandingkan perusahaan lain
Adinda Putri Ramdhani mengatakan…
kalo menurut saya, perlu bgt sih adanya rekonstruksi manajemen pemasaran. setiap kegiatan, setiap aktivitas itu kan pasti ada masanya. saat masa pandemi kayak gini, mau ga mau segala bentuk aktivitas harus berubah dan berbeda dari sebelum ada covid dan sesudah ada covid. saat sblm covid, orang-orang tdk ada yg menggunakan masker, tidak menjaga jarak, makan dimana saja tidak kepikiran akan adanya virus yg bakalan menjangkit, bekerja ataupun sekolah juga bisa bertemu langsung tanpa harus khawatir dgn si covid ini. tapi semua itu berubah ketika covid ada, bener -bener 180 drajat berubah ga sih... yaa nikmatin aja masa-masa ini, jangan dibawa stress, yang penting happy biar imun tubuh kita ga turun!:))
Elfira Oktavia's mengatakan…
tidak ada yang bakalan nyangka ga sih bakal kejadian pandemi covid 19 yang bakal selama ini? dan saya pikirpun perlu banget adanya rekontruksi manajeman pemasaran, apalagi kita dihimbau untuk jaga jarak pas lagi bertemu, pasti masyarakat akan lebih memilih untuk virtual daripada bertemu orangnya langsung. maka dari itu, bisnis yang dilakukan pada saat jaman pandemi seperti ini sudah serba online, baik dari pemasarannya pun online, masyarakat sudah terbiasa dengan kebiasaan seperti itu. dan apabila dilakukan dengan online masyarakat juga ga bakalan khawatir dengan penularan covid 19
Anonim mengatakan…
Setelah saya baca blog diatas, menurut pendapat saya perlu dilakukan rekonstrusksi ulang manajemen pemasaran untuk perbaikan dimasa seperti ini. Karena sekarang kita hidup di era pandemi. Jujur, munculnya wabah ini sangat mengkhawatirkan seluruh mahasiswa. Untuk mahasiswa sendiri kuliahnya kan melalui online jadi dengan mengunakan aplikasi yang ada kami bisa mengakses dan menerima informasi  dari dosen. Kemudian kami juga bisa belajar dari rumah sebagaimana mestinya walaupun tidak secara tatap muka. Meskipun kendala yang kami alami salah satunya ialah data internet, kuliah online dapat dengan mudah di akses oleh mahasiswa dengan bantuan sistem yang sudah disepakati antar dosen dengan mahasiswa
Wahhhh menurut saya pemerinta tidak harus melakulan rekronsruski, karena dengan semuanya online menurut saya tidak efektif, mengapa? Karena dikala online banyak sekali hambatan dan yang paling utama adalah hambatan signal,lalu penyampaian kurang jelas, hambatan-hambatan tersebut terjadi pada pelajar dan mahasiswa yang sedang daring maupun para karyawan kantor dan para pebisnis untuk meeting. Tatap muka itu masih diperlukan walaupun sekarang masi era globalisasi, karena kalau online rasa keep in touch nya sangat berbeda dan tidak ada hubungan emosional untuk mengerti satu sama lain.
Istna nurashifa mengatakan…
menurut saya,saya si setuju dengan artikel diatas memang sangat perlu adanya kegiatan rekontruksi karena sebelum wabah covid masyarakat semuanya bebas melakukan kegiatan apapun dan berinteraksi tetapi setelah wabah datang semua kegiatan masyarakat menjadi terbatas dan semua dilakukan secara online bahkan semua masyarakat juga harus mau berdaptasi kebiasaan seperti itu,terkadang engga semua masyarakat bisa patuh dengan aturan krn terkadang banyak juga masyarakat yg jenuh dan bosan ketika berada dirumah,oleh karena itu rekontruksi dan penataan ulang harus dan wajib dilakukan!!! agar kegiatan pendidikan,layanan jasa dll juga ttp bsa bejalan dnegan baikkkk
g mengatakan…
Mengenai artikel yang telah dijelaskan diatas menurut saya penjelasannya sangat informatif apalagi mengenai covid-19 yang sekarang masih marak2nya dan juga mengubah kegiatan sehari-hari kita seperti pembelajaran melalui online, bepergian juga harus melakukan social distancing dan lain sebaginya. Ketika kita ingin berbelanja juga sistemnya sudah online
bella tiara mengatakan…
menurut saya sih perlu ya adanya rekontruksi manajemen pemasaran apalagi saat pandemi seperti sekarang yang dulunya kita gapernah ngebayangin bakal belajar dirumah pakai aplikasi zoom, eh sekarang kita ngelakuin itu bahkan sampai setaun lebih.. banyak banget aktivitas yg berubah setelah adanya pandemi covid ini. dulu kita kalau ke tempat kerumunan juga ga masalah, sekarang ngeliat foto orang berkerumunan aja udah aneh banget dan takut. perusahaan pun sekarang juga memberlalukan sistem wfo dan wfh selang-seling. bisnis online sekarang juga banyak banget yang menjual masker kekinian yang padahal dulu masker bagi kita bukan suatu hal yang penting dan harus dibeli
Afrilia denia mengatakan…
Kalo menurut saya sih back office dan front office ini perlu dilakukan rekonstruksi ulang dalam manajemen pemasaran jasa. Kenapa? karena di zaman sekarang itu semuanya berbasis teknologi apalagi dengan adanya covid-19 ini membuat kita mahasiswa melakukan pembelajaran jarak jauh (daring) dan beberapa perusahaan jasa lain juga sangat mengalami kerugian. Seperti beberapa restoran yang hampir gulung tikar karena di berlakukannya PSBB tetapi sekarang mereka sudah melibatkan orang ketiga dalam perusahaannya yaitu bisa di pesan melalui ojek online ataupun fitur take away dan pada sector pariwisata banyak yang mengalami kerugian besar-besaran. Nah kaan jadi dengan di diadakannya rekonstruksi ulang ini kita bisa melakukan segalanya dengan mudah walaupun hanya bisa menatap lewat layar handphone/laptop hehehe
Adelea Ristiana mengatakan…
Saya sangat setuju dengan regulasi yang diberikan pemerintah. Saat masa pandemi ini pemerintah dengan segala cara berusaha menekankan jumlah kasus covid. Dengan berbagai cara yang diberikan seperti diberlakukannya PSBB. Masyarakat juga bisa ikut berperan meringankan dan membantu dengan tetap tinggal di rumah, serta menghindari kerumunan, untuk memutus rantai penularan virus corona. Serta mematuhi 5M (Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, mengurangi mobilitas). Salah satu bentuknya yaitu WFH dan Pemberlajaran Jarak Jauh (PJJ). Sebaiknya masyarakat ikuti saja apa yang diperintah oleh pemerintah karena itu pasti yang terbaik untuk negara. Stay safe guys☺️
Maulida Nur F mengatakan…
Saya pikir perlu adanya rekonstruksi di saat covid 19 seperti ini. Karena begitu adanya covid 19 ini langsung merubah banyak situasi, contohnya situasi pembelajaran yang awalnya offline sekarang berubah jadi online walaupun banyak banget tantangan nya dan mungkin beberapa orang masih awam sama virtual meeting seperti zoom dan lainnya, banyak juga kegiatan sehari-hari yang tertunda berubah karena covid 19 dan harus social distancing dan harus pakai masker kemana-mana. Selain itu, bidang bisnis banyak banget yang berubah karena covid 19, banyak bisnis yang turun dan gak stabil bahkan bisa gulung tikar, saat kondisi covid 19 juga masyarakat lebih milih untuk belanja melalui online daripada offline karena takut terpapar virus.
Maulida Nur F mengatakan…
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Reyna Andhini mengatakan…
hmm, menurut saya sih tidak perlu dilakukan rekonstruksi ulang untuk manajemen pemasaran jasa. Karena seperti yang tertera di blog bahwa banyak yang membawa bawa nama globalisasi, jadi menurut saya di era globalisasi mau back office maupun front office dalam perkuliahan maupun praktik dalam manajemen pemasaran tidak terlalu signifikan perubahannya, dan menyebabkan pertambahan cost dalam praktiknya, belum lagi jika dunia sudah kembali normal apakah akan sebanding dengan apa yang telah di keluarkan untuk rekonstruksi ulang?menurut saya tidak sebanding.
Melinia Safitri mengatakan…
Setuju sih perlu adanya rekonstruksi, apalagi di era yang saat ini kita mau ngga mau harus menghadapi kemajuan teknologi yang semakin update, kita ngga bisa nunggu gitu aja sampai perkuliahan offline dengan menggunakan sistem pembelajaran yang monoton seengganya ada perubahan yang bisa diambil dari situasi-situasi yang ngga memungkinan saat ini. Nah dari situ perlu banget adanya rekonstruksi praksis di manajemen pemasaran jasa ini karena di saat pendemi ini kita jadi banyak harus jaga jarak, pakai masker, dilarang berkerumunan supaya memutuskan rantai penyebaran covid. Saya harap dari pihak akademis juga mampu menciptakan sedikit demi sedikit untuk perubahan terutama dalam hal pembelajaran online.
Putri Agustia mengatakan…
Setelah saya membaca blog ini saya berpendapat bahwa dimasa pademi saat ini tidak perlu untuk dilakukan rekonstruksi ulang dalam dunia pendidikan maupun dalam manajemen pemasaran jasa. Karena, bisa kita lihat bahwa masyarakat kita masih membutuhkan physical touch, atau tatap muka. Dan juga adanya beberapa hal yang mendukung untuk tidak dilakukannya rekonstruksi ulang, misalnya seperti kuliah daring tidak semua materi bisa dilakukan secara daring ada beberapa fakultas yang memang harus melakukan kuliah tatap muka, contohnya fakultas FSRD dimana materi dari kuliah tersebut adalah praktik jika dilakukan kuliah secara daring/online ini akan menyulitkan mereka. Untuk contoh di Indutri jasa kita bisa melihat contohnya dari proyek konstruksi dimana untuk melakukan pengerjaannya para pekerja kasar/kuli tidak bisa yang namanya menerapkan physical distancing karna itu merupakan hal yang mustahil dan itu akan menjadi kendala.
Tabitha Magnalia mengatakan…
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Nada Fitrah Alifia mengatakan…
untuk sekarang menurut saya tidak perlu dilakukan rekonstruksi karena apabila semua yang dilakukan dalam hal perkuliahan maupun yang lainnya dalam online sering terhambat dan tidak efektif karena berbagai faktor, misal, kendala signal yang sering banget jadi hambatan. saya sendiri kurang suka dengan cara rekonstruksi dalam hal pembelajaran online karena sangat monoton dan tugas yang sangat banyak tetapi materi perkulihan yang tidak begitu jelas tersampaikan. jadi saya lebih memilih untuk tetap tidak melakukan rekonstruksi ulang.
Tabitha Magnalia mengatakan…
Kalau saya sih lumayan tidak setuju kalau dilakukan rekonstruksi ini karena seperti yang sudah kita tau, era covid19 ini kan memaksa kita untuk melakukan banyak kegiatan seperti kerjaan , kuliah sekolah, dan bisnis secara Online. sedangkan setelah bbrp waktu ini menjalani banyak kegiatan secara aonline, banyak gangguan yang kegiatan seperti jaringan internet yang bermasalah.. juga misalnya saya sebagai mahasiswa, terkadang masih kurang paham dengan kegiatan belajar secara online. memang seiring berjalan waktu ada solusi di setiap masalah di era covid 19 ini, tetapi menurut saya akan lebih efektif untuk menjalani kegiatan kita tetap menjalankan kegiatan secara offline (tatap muka).
M.Fahmi Akbar Siregar mengatakan…
Kalau menurut saya sih ga perlu adanya perubahan, ya karena kita sudah dapat beradaptasi dengan kondisi covid-19 sekarang ini, kita juga sudah banyak menemukan alternatif-alternatif yang dapat membantu kita menjalani aktivitas yang tidak bisa dilakukan di masa pandemi ini, contoh saja kita sudah terbiasa dengan meeting online baik dengan zoom atau yang serupa, di bagian front office klien juga pastinya sudah beradaptasi juga dan mengerti dengan kondisi sekarang yang kurang mendukung untuk melakukan kontak langsung jadinya harus menggunakan media online, dan back officepun juga sudah dapat beradaptasi, lagipula jika tiba tiba dilakukan perubahan maka yang ada hanya akan menimbulkan konflik dan masalah masalah baru lainnya karena kita harus melakukan penyesuaian lebih lagi dan pastinya memerlukan biaya lebih lagi. ya intinya saya kurang setuju aja kalau diadakannya perubahan karena sudah terbiasa dengan yang lama dan sudah berjalan menuju normal kembali.
Maura Siti Rahma mengatakan…
Setelah baca isi blog nya, menurut saya sih ga perlu adanya penataan ulang tentang materi perkuliahan di kondisi pandemi seperti ini. Bahkan akan nambah biaya lagi kalau mau melakukan rekonstruksi ulang. Misalnya, bayar pelatihan dosen-dosen dalam memakai website Febiola dan platform lainnya. Belum lagi ada kuliah yang sulit menggunakan daring yang mengharuskan mahasiswa atau dosennya harus praktik langsung.
Yoanita Febriyani mengatakan…
Menurut saya tidak perlu dilakukan rekonstruksi ulang dalam berbagai bidang seperti pemasaran jasa aatau bidang akademis. Karena ya kalau terjadi rekonstruksi gak semua orang akan setuju dan pasti sulit untuk menerima rekonstruksi tersebut. Belum tentu juga rekonstruksi tersebut dapat sesuai dengan situasi dan kondisi sosial budaaya di beberapa wilayah. Dan apakah dengan rekonstruksi tersebut semua akan menjadi efektif?jika memang rekosntruksi tersebut telah dilakukan dan tidak efektif semuanya akan jadi sia-sia saja.
Menurut pendapat saya, saya setuju dengan adanya rekonstruksi, bisa dilihat dari soal kuliah, karena sekarang kita sudah hidup di new era atau di era pandemi ini, semenjak kuliah online ini saya bisa menerima informasi dengan baik walaupun internet sering bermasalah, kita bisa hidup lebih sehat dengan adanya new era ini, seperti selalu memakai masker saat berpergian dan tidak makan atau minum campur orang lain. dan ada hal lain seperti belanja melalui online karna mempermudah konsumen untuk berbelanja tanpa harus mengunjungi toko tersebut.
Putrie khairunnisa mengatakan…
Saya tidak setuju jika melakukan rekrontruksi ulang karena menurut saya dengan adanya rekrontuksi menejemen pemasaran jasa dalam bidang pendidikan ini tidak perlu dilakukan karena dengan digantinya kuliah online lebih merugikan konsumen (mahasiswa) karena faktor eksternal seperti keterbatasan sinyal ataupun mati lampu yg tidak dapat di prediksi/ tidak terduga. Hal tersebut belum tentu dimengerti oleh dosen (produsen) dan banyak juga mahasiswa yg mengeluh jadi kurang mengerti materi yang disampakan oleh dosen. Saya lebih setuju untuk melakukan adaptasi dari sistem sebelumnya dimana dimasa pandemi ini kuliah tetap masuk (offline) tetapi tetap melakukan protokol kesehatan seperti jaga jarak di kelas daripada rekontruksi jadi seperti ini yg menurut saya merugikan konsumen.
Cindy Bernika mengatakan…
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
putri andini mengatakan…
menurut saya sendiri, saya tidak setuju dengan adanya rekonstruksi, Dampak pandemi Covid-19 sangat terasa di dunia bisnis dan dalam waktu yang cukup singkat, pola pemasaran pun berubah. Dari sisi negatif mahasiswa sendiri tidak bisa berdiskusi seperti kuliah pada umumnya dengan bertatap muka secara langsung, belum lagi terdapat hambatan yang membuat kuliah terganggu. dan menurut saya rekonstruksi ini membuat perkuliahan online menjadi kurang efektif dan efisien. Dalam hal pemasaran, pelaku usaha juga Harus menata ulang bisnisnya agar relevan. sehingga banyak juga pelaku bisnis yang kontra dengan rekonstruksi di masa pandemi ini.
Anindia Darsania mengatakan…
Menurut pendapat saya sangat setuju dengan rekonstruksi yang ada pada saat pandemi seperti ini, karena untuk tetap menjaga ke efektivitas an yang ada. Dengan adanya pandemi seperti ini semua berubah menjadi online mulai dari proses pembelajaran dengan cara work from home lalu jadi pekerja yang berubah menjadi work from office. Secara langsung kami juga sangat memanfaatkan dan meningkatkan kegunaan digitalisasi yang ada.
Salbian Naufal mengatakan…
Menurut saya sih tidak perlu dilakukan rekontruksi,karena jika terjadi melakukan rekontruksi manajemen pemasaran ulang hal tersebut akan memakan biaya yang cukup besar.Selanjutnya akan terjadi kesulitan dalam beradaptasi dalam praktek perubahan rekontruksi.Lalu kalo ada rekontruksi ulang memangnya dapat sangat berpengaruh untuk kedepannya?seperti dalam pembelajaran online memang sih covid ini mengganggu tetapi kalo menggunakan online memakan biaya kuota,lalu gadget nya juga harus canggih untuk mendukung proses pembelajaran.kayaknya sulit sih untuk melakukan praktek secara online secara terus menerus.takutnya kalo rekonstruksi ulang akan sulit beradaptasi dan tidak berjalan secara efektif atau tidak sesuai dengan yang sudah direncanakan.
Salbian Naufal mengatakan…
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Gorby Al mengatakan…
Menurut saya, pada saat ini memang diharuskan untuk rekonstruksi ulang. covid 19 telah merubah kegiatan dalam sehari hari. tetapi dengan adanya kebijakan dari pemerintah, pada saat ini kita sudah mulai beraktifitas seperti normal (new normal). Dengan begitu kegiatan perkantoran sampai umkm sudah mulai beraktifitas dengan normal (new Normal). karena pemerintah juga berusaha semaksimal mungkin agar masyarakat dapat beraktifitas dengan normal (new Normal). dengan begitu diharapkan kepada masyarakat juga harus mentaati protokol kesehatan dan tetap dirumah saja.
Silvia Santi mengatakan…
Saya tidak setuju kalau covid merubah segalanya. Walaupun virus corona merupakan ancaman tetapi terdapat peluang juga. Beberapa sektor bisnis yang berpotensi stabil dan mengalami kenaikan seperti produk kesehatan contohnya masih dibutuhkan saat pandemi. Menurut saya juga tidak perlu adanya rekontruksi ulang dalam pemasaran jasa karena belum tentu juga hasilnya akan jauh lebih baik dari sekarang sih.
Cindy Bernika mengatakan…
Menurut saya, kita harus menyesuaikan diri dengan situasi saat ini dimana situasi pandemi covid-19 saat ini kita diminta untuk menyesuaikan diri di dalam melakukan kegiatan aktifitas sehari-hari sesuai anjuran pemerintah, agar setiap melaksanakan pekerjaan dan juga kegiatan sehari-hari di lingkungan rumah agar selalu mengikuti protokol kesehatan. Maka di dalam melakukan rekonstruksi pemasaran perlu di buat terobosan baru agar strategi pemasaran dapat tersampaikan pada tingkat konsumen dan perekonomian dapat terus berjalan.
Unknown mengatakan…
Kalau pandemik jd issue yg populer. Ibaratnya, ngalahin issue globalisasi (semua hal dikaitin ke pandemik) sampai semua cabang ilmu mulai bahas solusi. Sedangkan ilmu pemasaran jasa dianggep ngga bahas solusi? Tapi diakhir kalimat postingan ini blg hal yg blunder. postingan di atas blg kalau pemasaran jasa cuma bahas dampak, tren, dan rekomendasi. Bukannya itu sebenernya sama aja upaya cari solusi? He he he
Menurut saya jika dilakukan rekonstruksi pemasaran jasa di bidang pendidikan juga tidak terlalu efektif dilakukan sebagai solusi karena banyak faktor2 ekternal yang dapat menghambat.
Silvy Ananda Baisan mengatakan…
Setelah saya membacai artikel blog diatas, saya kontra dengan pendapat tersebut karena jika dilakukan penataan ulang pemasaran jasa saya sebagai mahasiswa akan sulit beradaptasi kembali. Hal ini didukung dengan kajian singkat atas pengamatan akademisi pemasaran (jasa), yang umumnya belum ada bentuk solusi yang terlalu konkrit. Mahasiswa pun banyak mengeluh mengenai pembelajaran online karna banyaknya ketidaksiapan antara mahasiswa maupun pengajarnya yang menjadikan situasi tidak efektif.
Putri Nursifa mengatakan…
Menurut saya pada saat masa pandemi Covid19 ini, gaperlu adanya rekronstuksi, karena jika pemasran jasa direkonstruksi maka tidak semua mahasiswa dan dosen bisa memahami atau menerima hal itu. Contohnya yaa pembelajaran secara daring ini, karena menurut saya ini sangat tidak efektif dan tidak semua orang bisa memahami sesuatu secara daring dan yang ada banyak faktor hambatan seperti penambahan biaya untuk membeli kuota, adanya jaringan yang kurang bagus, dan yang lainnya. Sehingga rekonstruksi ulang pemasaran jasa sangatlah tidak efektif.
Alcado Anggramarizky mengatakan…
saya setuju dengan dilakukanya rekonstruksi ulang, karena kita hidup di era new normal banyak perubahan yang terjadi dan kita harus bisa mgikuti zaman, dan kita juga bisa belajar untuk menambah softskill kita di bidang teknologi, dan menurut saya dengan dilaksanakan kuliah daring ini cukup efisien dan efektiv
widiana mengatakan…
Menurut saya sih rekonstruksi tidak perlu dilakukan khususnya dalam manajemen pemasaran jasa. Karena akan adanya banyak dampak negatif dari rekonstruksi tersebut. Hal ini saya katakan sesuai dengan apa yang telah saya alami dan saya lihat. Pembelajaran jarak jauh atau secara daring sangat tidak efektif karena kurangnya pengawasan sehingga banyak mahasiswa yang kurang peduli terhadap perkuliahan, akibatnya banyak mahasiswa yang berkurang rasa hormat dan menghargainya karena mereka menganggap enteng perkuliahan secara daring ini. Misalnya seperti meninggalkan kelas saat perkuliahan via zoom dimulai. Selain itu, banyak pengajar yang kurang menguasai platform-platform perkuliahan online sehingga kegiatan perkuliahan banyak tertunda dan akhirnya berlangsung tidak lancar. Banyak pula kendala kendala lain yang dirasakan oleh orang-orang di kantor maupun bisnis lainnya, oleh karena ini rekonstruksi ini perlu dipikirkan kembali.
Ria Selvira mengatakan…
saya pribadi sangat tidak setuju apabila dilakukan rekonstruksi dalam manajemen pemasaran jasa. Karena berdasarkan pengalaman saya sebagai mahasiswa yang melakukan pembelajaran secara online, itu sangat tidak efektif sekali karena terdapat berbagai kendala seperti akses jaringan internet yang kurang stabil sehingga materi yang diberikan tidak tersampaikan dengan baik. Selain itu saat melakukan pembelajaran online, rasa malas untuk memperhatikan materi yang diberikan akan semakin besar. Terkadang pada saat kelas dimulai, kebanyakan mahasiswa tidak memperhatikan materi melainkan ia lebih fokus pada gadgetnya dengan membuka sosial media. Oleh sebab itu, sebaiknya rekonstruksi manajemen pemasaran dengan beralih ke online itu tidak dilakukan, karena itu membuat dampak yang sangat buruk. Pada artikel itu juga dijelaskan bahwa akademisi pemasaran jasa belum ada bentuk solusi yang terlalu konkrit, sehingga rekonstruksi manajemen pemasaran ini perlu dikaji ulang.
Destin Aurelia F mengatakan…
saya setuju ada perubahan dalam penataan materi karena pademi ini sangat berpengaruh untuk semua sektor baik di pendidikan, perbankan, bisnis dan pemasaran maupun kehidupan bermasyarakat dalam beribadah, berinteraksi dengan sesama, namun di sektor pendidikan ini walupun ada perubahan kami berharap segera bisa mendapatkan materi pemaparan mata kuliah offline dan bisa berinteraksi langsung dengan dosen pembibing supaya lebih mendalam dalam memahami mata kuliah
Desi Lestari mengatakan…
Menurut pendapat saya, sangat perlu dilakukan rekonstruksi dalam manajemen pemasaran, apalagi diera pandemi covid saat ini banyak sekali aktivitas yang berubah seperti sistem pembelajaran yang tadinya belajar dikelas sekarang belajar dirumah menggunakan virtual meeting seperti zoom, begitupun dengan perusahaan melakukan sistem work from home sesuai dengan anjuran pemerintah. Banyak juga aktivitas masyarakat yang terhambat akibat pandemi ini, masyarakat juga wajib memakai masker jika keluar rumah dan harus melakukan social distancing sesuai dengan protokol kesehatan. Oleh karena itu perlu dilakukan rekonstruksi ulang agar kedepannya lebih baik.

Postingan populer dari blog ini