Philip Kotler vs Steve Jobs
Sebelum Iphone di-realese tahun 2007, Ketika saya mengajar,
populeritasnya nyaris kalah dengan Bill Gates. Bila disandingkan dua foto antara
Bill Gates dan Steve Jobs, pada waktu itu, dapat dipastikan semua mahasiswa
dapat menjawab, pendiri dan pemilik Microsoft. Sedangkan untuk Steve Jobs, tidak
ada yang mampu mengidenfikasikannya. Begitu ditampilkan logo Apple, maka semua
baru terperangah. Ya memang, media AS lebih “memanjakan” Bill Gates yang adalah
anak manis media AS saat itu. Sebaliknya Steve Jobs adalah figur yang flamboyan
dan agak temperamental, yang saat ini kisah hidupnya bisa disaksikan dalam
berbagai tayangan sinema.
Ilustrasi Steve Jobs selalu saya bawakan dalam setiap
perkuliahan awal Manajemen Pemasaran, karena sudah menjadi hal yang wajib
dipahami mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini harus menguasai apa yang disebut
teori inti pemasaran dari Kotler (baik dengan Amnstrong maupun Keller) yang
nyaris tidak bisa dibantah yang terdiri, antara lain, needs, wants dan demands.
Sehingga menjadi terkenal tentang evolusi pemasaran yang berawal dari konsep
produk, produksi, penjualan dan pemasaran itu sendiri.
Jadi menjadi semacam “doktrin” dalam pemasaran bahwa apapun
yang akan Anda jual baik berupa barang atau jasa, pahami dulu apa kebutuhan,
keinginan dan sisi permintaan (pasar) dari konsumen atau pelanggan. Doktrin ini
seolah-olah tidak terbantah. Yang harus diamini
oleh mahasiswa jika ingin lulus mata kuliah tersebut. Padahal tidak
selalu demikian, apa yang disampaikan oleh Kotler dan Kotlerian (ini istilah
saya saja) tidak selalu seperti ini.
Steve Jobs adalah ilustrasi yang selalu saya berikan bahwa
bisa saja kita menghasilkan barang atau jasa sesuai dengan apa yang kita
impikan. Dan ia berhasil. Sehingga berbagai turunan produk dan layanan Apple
dengan ekosistemnya yang mengagumkan menjadi standar baru dalam kehidupan kita.
Demikian juga yang dilakukan oleh para industrialis Jepang pada tahun 1970-an
yang berhasil mengalahkan Amerika Serikat menurut hasil studi Prahalat dan
Hamel yang terkenal dengan terminologi core
competence-nya. Yang masih
relevan sampai saat ini, bahwa sebuah perusahaan atau produk untuk tampil
unggul, salah satunya dengan mengubah standar. Perubahan standarisasi yang
dipelopori oleh para industrialis Jepang berhasil mengalahkan pesaingnya.
Padahal imu manajemen dan pemasaran mereka pelajari dari Amerika Serikat sendiri,
Mungkin contoh-contoh yang diberikan bisa dikatakan edisi
lawas. Tapi saat ini siapa yang tidak mengenal Elon Musk dengan berbagai projek
Telsa, yang mengubah standar otomotif dan masih banyak lagi yang sedang
digarapnya. Bahkan figure Elon Musk tidak hanya CEO yang mumpuni, tetapi juga
marketer yang handal di dunia maya, dan menjadi influencer yang luar biasa,
misalnya untuk crypto currency dan club house yang tiba-tiba menjadi trending.
Sehingga akan sangat menyedihkan kalau dalam mempelajari dan mempraktekkan
pemasaran hanya dari Kotler minded semata-mata.
Bekasi, 23 Februari 2021
Salam Takzim
Komentar