Kata-kata Ajaib “Strategik”
Entah mengapa kata strategik
seolah-olah memiliki daya tarik yang luar biasa. Mata kuliah yang menambahkan
kata strategik dapat dipastikan menarik minat mahasiswa. Demikian pula dengan pendidikan
formal yang menambah embel-embel kata strategik pasti laris manis sepanjang
memenuhi ketentuan regulasi tentunya. Sebagai perbandingan, walaupun tidak
persis sama, kosa kata digital atau smart juga memiliki daya tarik bagi
banyak kalangan.
Kembali ke kosa kata strategik
tersebut, ada kemungkinan, walaupun belum tentu benar, berminatnya berbagai
kalangan dalam mengikuti pendidikan atau pelatihan yang diberi embel-embel
strategik karena ada ekspektasi, dengan mempelajari sesuai yang bersifat strategik,
maka mobilitas vertical atau karir akan lebih baik. Hal yang tidak terlalu
keliru memang. Karena mempelajari sesuatu yang startegik berarti mulai dari
sisi puncak struktur organisasi sampai dengan level operasional yang terbawah.
Bayangkan dari sisi kekuasaan (power atau authority), bukankah
ini impian semua orang berkarir atau berkarya. Mempelajari sesuatu dari level
puncak sampai level operasional siapa yang tidak tertarik.
Dalam bidang manajemen, kosa kata
ini melekat dalam mata kuliah manajemen strategik, manajemen sumber daya
manusia strategik, dan pemasaran strategik, sekedar untuk menyebut contoh saja.
Jujur, kadang kala menghadapi “kejenuhan” dalam proses perkuliahan, karena
sebenarnya kosa kata strategik dalam disiplin ilmu manajemen, hanya
berputar-putar pada, istilah saya, ilmu tiga jurus, yaitu formulation (baca:
planning), implementation, dan control. Biasanya supaya
lebih keren lagi untuk control ditambahkan dengan monitoring, evaluation
dan reporting. Tinggal tergantung rujukan yang digunakannya.
Kotler baik bersama Keller
(2016) maupun Amstrong (2018) konsisten dengan tiga formulasi tersebut, yaitu formulation
(planning), implementation, dan control. Sementara Chernev (2014),
agak sedikit keren dalam menyajikannya dengan jargon G-STIC
(Goal-Strategy-Tactics-Implementation-Control). Namun bisa kita pahami bahwa
aspek formulation (planning) adalah sama dengan Goal-Strategy-Tactics.
Namun sebenarnya tulisan ini tidak mempermasalahkan
hal tersebut, tetapi lebih ke arah, apakah manajamen atau pemasaran strategik ssuatu
super spesialisasi dari ilmu manajemen/pemasaran atau sebenarnya hanya alat
atau tools dalam sebuah perencanaan?
Jujur ada kebingungan dalam mempelajari literatur pemasaran yang dimaksud dengan perencanaan strategik. Secara tradisional perencanaan dalam pemasaran tidak terlepas dari penerapan taktik dan aksi segmentasi, targeting dan positioning. Yang biasanya dikombinasikan dengan taktik dan aksi bauran pemasaran, mulai dari perspektif klasik seperti produk, harga, distribusi dan promosi. Kemudian kalau untuk bidang jasa ditambahkan tiga aspek yaitu physical evidence, people dan proses. Sehingga dalam bauran pemasaran jasa dikenal ketujuh aspek tersebut yang dilakukan oleh penyedia jasa (service provider) dengan cara kanonikal. Chernev (2014) juga menyebutkan ada tujuh bauran pemasaran strategik yang perlu dipertimbangkan yakni produk, jasa, merek, harga, insentif, komunikasi, dan distribusi. Bagi yang ingin mengetahui lebih mendalam dari sisi konsep dan implementasi pemasaran strategik dapat membaca dari buku teks yang ditulis oleh Abratt & Bendixen (2019).
Perencanaan strategik dari sisi alat yang paling popular adalah analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunities & Threat) yang biasanya untuk pemasaran dilengkapi dengan segmentasi, targeting dan positioning serta bauran pemasaran adalah strategi pertumbuhan, matrik BCG, keunggulan bersaing, keberlanjutan bisnis, dan masih banyak lagi. Hingga ada terminologi yang membuat kita terpanah, misal red, blue & white ocean strategy. Begitu banyak istilah-istilah yang sedemikian canggihnya sehingga membuat kita menjadi bingung sendiri.
Salam Takzim

Komentar
Dengan mempelajari Manajemen strategi juga dapat membatu perusahaan untuk menghadapi perubahan-perubahan yang tidak siap diantisiapasi oleh perusahaan dalam kondisi sekarang. Misalnya sekarang karena terjadinya pandemic banyak perusahaan yang mengalami penurunan penjualan maupun produksi ,perusahaan tersebut harus mencari strategi untuk meningkatkan penjualan dimasa pandemic ini . Maka saat itu terjadi manajemen strategi sangat diperlukan untuk membantu perusahaan .
Perencanaan strategik kadang-kadang cenderung membatasi perencanaan hanya terhadap pilihan yang paling rasional dan bebas resiko.