Novelty (?)

Belakangan ini ramai dibicarakan tentang novelty dalam riset terutama untuk penulisan disertasi. Novelty yang dimaksudkan adalah bagaimana seorang peneliti dalam melakukan riset tidak hanya bersifat klise semata. Artinya hanya meneliti sesuatu yang sudah menjadi postulat atau aksioma. Memang ini hal yang biasa terjadi pada berbagai jenjang Pendidikan tinggi.

Tentu yang menjadi tanda tanya adalah mengapa kosa kata ini begitu popular dan “trending” di kalangan mahasiswa (tertutama pendidikan doctoral) belakangan ini. Padahal sudah menjadi ketentuan baku dalam sebuah penelitian, biasanya seorang peneliti dapat dipastikan, terdorong untuk mencari sesuai yang baru, yang menarik, dan berbeda dengan penelitian sebelumnya.

Ada beberapa kemungkinan yang terjadi, pertama adalah dampak kebijakan Menteri Pendidikan Tinggi terdahulu yang menwajibkan dosen untuk mempublikasi karya ilmiah pada publisher yang reputable (Scopus atau WOS) bila ingin naik jenjang jabatan akademik yang lebih tinggi seperti Lektor Kepala dan Profesor. Kedua adalah adanya “kewajiban” bagi para mahasiswa doctoral yang akan menyelesaikan studinya “diharuskan” untuk mempublikasi karya ilmiah dalam jurnal yang reputable. Di lapangan dampak yang kedua disikapi dan dipraktekkan dalam beragam cara. Bahkan, cara-cara tersebut membuat yang paham dengan iklim riset di Indonesia, akan tersenyum kecut.

Mudah sekali kita “membaca” dari fenomena atas kata-kata ajaib “novelty” muncul dari sisi regulative. Artinya pemerintah meningkatkan standar keilmuan pada kalangan akademisi, termasuk mahasiswa doctoral untuk memenuhi standar internasional. Yang menarik justru tidak ada greget atau suara dari perguruan tinggi sendiri secara sadar untuk meningkatkan mutu keilmuannya, dari sisi dosen dan mahasiswa. Semuanya lebih banyak menunggu ‘standar” yang ditentukan oleh pemerintah.

Walaupun sebenarnya, potret dunia pendidikan tinggi kita tidak begitu banyak perubahan seperti yang dideskripsikan oleh Harry J. Benda, Indonesianis dari Cornell University, lebih dari 6 dekade lalu. Lihatlah peringkat Indonesia dari sisi index inovasi global yang selalu tertinggal (https://www.wipo.int/global_innovation_index/en/2020/). Jadi sebenarnya tidak perlu merasa risi dan jengah mendengar kata-kata novelty, karena sudah lama digaungkan, salah satunya adalah Thomas Khun, yang fenomenal dengan buku mahakaryanya, “The Structure of Scientific Revolutions”.

 

Salam takzim.

 

Bekasi, 18  Februari 2021.

Robert Kristaung 

Komentar

Postingan populer dari blog ini